Exclusive Interview With Ciputra Enterpreunership

  • Dibuat pada Rabu, 04 Desember 2013
Exclusive Interview With Ciputra Enterpreunership

Henny Widjaja Meraih Sukses Di Bisnis Abon Cabe

Abon cabai merupakan salah satu jenis makanan yang relatif baru, namun sudah menyebar dan memiliki penggemar tersendiri di Indonesia. Banyak pelaku usaha yang sudah bisnis abon cabai ini. Salah satu produsen generasi awal yang masih eksis memproduksi abon cabai adalah Henny Widjaja atau akrab disapa Ninoy. Dengan mengusung merek Ninoy Abon Cabe, Henny sukses dalam bisnis makanan olahan.

Sekalipun tak pernah kursus mengolah produk pangan, Ninoy mampu memproduksi dan memasarkan abon cabai olahannya hingga menghasilkan omzet ratusan juta rupiah. Resepnya? Tekun belajar dan pantang menyerah.

Saat ditemui Redaksi Ciputra Entrepreneurship, di Jakarta, beberapa waktu lalu, Henny menjelaskan bahwa produk Ninoy Abon Cabe dengan tujuh varian rasa ini lebih banyak dijual melalui sistem keagenan. Saat ini Henny memiliki lebih dari 50 agen yang aktif. Agen-agen Ninoy itu tersebar di beberapa wilayah Indonesia, dengan Jakarta sebagai pasar terbesar.
Wanita kelahiran Jakarta, 21 Juli 1974, ini menuturkan, melalui tangan para agen pula, Ninoy Abon Cabe bisa sampai ke negara-negara Eropa, Korea Selatan, dan Dubai. Bahkan tak sedikit juga buyer besar yang datang langsung ke Henny. “Saya itu tidak pernah belajar mengolah pangan. Dari kecil justru belajar salon,” ujarnya.

Dalam sebulan  Henny mampu menjual 600 kilogram abon. Banderol harga yang ia pasang mulai dari Rp35.000 untuk kemasan 100 gram (gr), Rp80.000 untuk kemasan 250 gr, serta Rp155.000 per 500 gr. Henny mengaku ia sama sekali tak memiliki basic dalam bidang kuliner, malah pada awalnya ia adalah seorang hair stylist yang sempat belajar tata rambut di Inggris. Maklum, sang ibu memang memiliki usaha salon, maka tak heran Ninoy sudah mahir memotong rambut sejak umur 11 tahun.

Setelah lulus SMA, Henny kebagian jatah untuk meneruskan usaha salon. Ia pun terbang ke Inggris untuk belajar tata rias di negeri ratu Elizabeth itu. Seusai sekolah, Henny pun berbisnis salon selama empat tahun.

Ternyata, mama pengin saya kuliah. Akhirnya tahun 1996, saya berangkat ke Australia,” kenangnya. Dia kuliah mengambil program diploma jurusan Manajemen Bisnis.

Sebulan di Negeri Kanguru, Henny mencoba melamar menjadi penata rambut di sebuah salon. “Untung saya mengantongi sertifikat kursus rambut dari Inggris. Syarat menjadi hair stylist di Australia adalah memiliki sertifikat,” ujar ibu dari Joshua ini.

Melalui Rintangan Dalam Bisnis
Sempat menjalankan usaha abon cabainya, Ninoy tetap menjadi penata rias. Bahkan, dia sempat dikirim ke Spanyol untuk belajar oleh sebuah perusahaan nail art. Henny terikat kontrak sebagai pengajar di perusahaan nail art tersebut selama setahun. Selepas dari situ, dia mendapat tawaran menjadi figuran film layar lebar berjudul Arisan.

“Pokoknya menjadi jarang di rumah. Hingga akhir 2008, saya diberi sambal oleh teman dari Bandung,” kata dia.

Sebagai penggemar berat sambal, Henny berusaha meniru sambal dari sang teman. Namun, karena basah, sambal itu benyek bila dibawa bepergian, Henny pun bereksperimen untuk mengeringkan cabai-cabai basah lantas membumbuinya hingga menjadi abon yang kering bila dibawa bepergian.
Awalnya, Henny hanya membuat 1 kg, yang dibagikan ke teman-temannya. Lantas, ia membuat lebih banyak lagi, 5 kg, dan dijual di warung makannya.

“Anak-anak kos pada suka. Saya juga bawa makanan ini ke Bandung, teman saya pun bantu jual,” kenangnya.

Produksi pun meningkat menjadi 50 kg, dibantu anak kosnya, Henny menjual produk ini melalui Kaskus, dan berhasil. Produksi terus meningkat hingga berhasil menambah karyawan dan produksi. Henny pun menawarkan kerja sama keagenan untuk memperbesar penjualan. Nilai belanja awal tiap agen minimal 15 kg.  Abon Cabe Ninoy pun booming. Selama 2011, penjualan bisa mencapai 1.000 kg per bulan!.

Namun, sukses berbuntut kehadiran pengekor. Henny harus menerima kenyataan usahanya ditiru orang. “Pebisnis rumahan bermunculan membuat abon cabai. Awal tahun lalu, bahkan ada pabrik yang membuat abon. Tak bisa dipungkiri omzet kami turun,” kata dia.

Pernah, penjualan hanya 60 kg sebulan. Selain pesaing yang bermunculan, banyak agen yang pindah ke lain merek.

“Saya tidak bisa memaksa agen untuk terus bersama saya. Akhirnya kami bisa bangkit lagi, dan sudah bisa menjual 600 kg per bulan. Konsumen dan agen lama kembali lagi karena memang abon cabai kami punya kualitas,” terang dia. (Rishad/Boni)

Jika Anda ingin tertarik dengan produk Abon Cabe Ninoy ini, Anda bisa menghubungi di kantor pemasaran di alamat berikut:

Jalan Karet Sawah I, nomor 94, Semanggi, Jakarta Selatan

http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview/henny-widjaja-meraih-sukses-di-bisnis-abon-cabe

Bagikan Pos

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kode Verifikasi